Wednesday, June 27, 2012

Lyric : Greyson Chance - Waiting Outside the Line

This is one of my favorite songs.. :) very inspiring.

Greyson Chance -- Waiting Outside the Line

you'll never enjoy your life
living inside the box
you're so afraid of taking chances,
how you gonna reach the top?

rules and regulations force you to play it safe
get rid of all the hesitation
it's time for you to seize the day...

instead of just sitting around
and looking down on tomorrow
you gotta let your feet off the ground

the time is now...

i'm waiting, waiting, just waiting
i'm waiting.. waiting outside the lines..
waiting outside the lines
waiting outside the lines...

try to have no regret even if

Tuesday, June 19, 2012

Tuhan Ada Bersamamu


Harapan itu selalu ada jika kamu percaya.
Selalu dan selalu ada. Jangan pernah berkata tak mungkin atau mustahil. Semua mungkin.
Teruslah panjatkan harapanmu pada Tuhan, ceritakan semua bebanmu padaNya ketika itu menyesakkan dadamu, menangislah jika itu membuatmu lebih lega, tapi berjanjilah bahwa kamu akan bangkit menatap dunia dan bersiap melewatinya.

Percayalah Tuhan selalu ada di hatimu, di setiap detak jantungmu, di setiap aliran darahmu, di setiap hembus nafasmu, di setiap langkah kakimu, di setiap sudut hidupmu...

Sebutlah namaNya ketika berat terasa dalam langkahmu, maka cintaNya akan meringankanmu.
Sebutlah namaNya ketika kegundahan menyelimuti hatimu, maka cintaNya akan mendamaikanmu.
Sebutlah namaNya ketika keraguan datang dalam benakmu, maka  cintaNya akan meyakinkanmu.
Sebutlah namaNya ketika rapuh terasa dalam dirimu, maka cintaNya akan menguatkanmu.
Sebutlah namaNya ketika khilaf tertoreh dari dirimu, maka cintaNya akan mengampunimu.
Lantas jangan melupakanNya ketika bahagia datang padamu. Sebutlah namaNya, sampaikan syukurmu padaNya, maka cintaNya akan semakin erat memelukmu... :)

Saturday, May 26, 2012

Aku tak mengerti


Aku.. seperti berada pada sebuah perjalanan. Perjalanan panjang, jauh dan melelahkan. Perjalanan menuju sebuah titik yang aku menyebutnya titik kemuliaan tertinggi manusia, dimana ia akan menghabiskan hidupnya dan menemukan kebahagiaan sebenarnya.. ‘Rumah Sejati’.

Sekarang, hari ini, di kota ini, dalam perjalanan ini, dalam terik dan badai.. dahaga mengusik, kaki tak mampu lagi menumpu badan.. aku lelah. Aku ingin berhenti. Tapi harusnya aku tak berhenti. Tuhan telah berpesan padaku untuk tidak berhenti sebelum aku menemukan titik itu. Tidak tepat untukku pabila aku berhenti sekarang. Tidak boleh. Tapi aku lelah.. sangat lelah.

Tegak kokoh berdiri di depanku, sebuah pohon besar, lebat, dengan buah-buahan yang menggantung padanya, seolah menjanjikanku kedamaian. Aku pun berhenti, tak menuruti nasihat Tuhan. “Tuhan.. aku mungkin bisa membangun rumah sejatiku dari pohon ini.. ijinkanlah” egoku.
Aku mulai bersandar, melepas penat, berteduh dibawahnya. Menghapus dahaga dengan buah yang ku petik darinya. Manis. Segar. 
Ketika malam datang dan dingin menusuk tulang rusukku, kuambil rantingnya, ku gosok dan menghadirkan api darinya. Hangat. Seperti dalam pelukan. Damai.
Aku merasa benar. Aku benar telah memilih pohon ini untuk kujadikan rumah sejati.. sehingga kutemukan kedamaian dalam dekapannya. Dan memang

Masih Ingin di Sini

Biarkan aku terbaring sejenak.. meringkuk..
Sejenak saja.. karena aku pun tak ingin berlama-lama..
Hanya sebatas menikmati duka menikmati asa dan nestapa..

Bukan aku lemah, bukan aku tak mampu bangkit..
Hanya saja aku belum menginginkannya..

Aku masih ingin di sini.. bersama pohon tua ini..
Biarpun daun telah gugur sehingga tak mampu lagi melindungiku dari terik..
Biar pun batang telah rapuh sehingga kapan saja bisa terjatuh menimpaku..
Tapi aku tetap masih ingin di sini.. di tempat ini..
Yang memberiku nyaman diwaktu dulu..

Biarkan aku tetap di sini..
Mengharap keajaiban menyemaikannya lagi.. menguatkannya lagi..
Hingga aku kembali nyaman bersandar..

Biarkan aku tetap di sini.. berharap..
Hanya sampai pada titik ku lelah..

Wednesday, May 23, 2012

135136297

Terpejam..
Tak tau apa yang harus dipikirkan..
Apa yang harus dibayangkan..

Menetes, Mengalir..
Bukan hujan bukan pula sungai..
Hanya butir permata yang terjatuh dalam samudra yang menjadikannya tak berharga..

Singkat..
Harmoni mengalunkan nada bersenandung cinta berhembus menjejak merasuki jiwa..
Bukan biru seperti cerahnya langit, bukan pula merah seperti cantiknya mawar..
Hanya putih yang tertutup bayangan yang menjadikannya buram dan terlupakan..

Tuhan..
Hanya Engkau yang tahu binar mataku ketika tertuju pada raut itu..
Kembang senyumku, merah pipiku ketika kusebut nama itu..
Gendrang jantungku ketika raga itu tersandar di sisiku.. bersamaku..

Tuhan..
Kini pun ketika asa memilu, ketika raut menjadi sendu masih hanya Engkau yang tahu..
Tersengal nafasku..
Sesak..

Tuhan..
Ampun..
Ini bukan keluh apalagi murka..
Hanya barisan kata yang tercipta begitu saja..